Jumat, 25 Mei 2012

Cerpen Anak Remaja


Jangan Biarkan Dia Pisahkan Kita Semua


Pagi itu amat cerah. Matahari yang baru muncul di balik bukit itu tersenyum ramah kepada pada penghuni bumi. Suasana di SMA Kartika tlah ramai oleh murid-murid yang tlah siap bersekolah.
            “Pagi teman-teman!”,
Sapaan yang sangat biasa dilakukan oleh seorang murid perempuan setelah dia masuk ke kelasnya itu, membuat orang-orang di sekitarnya menoleh terhadapnya. Dia begitu ramah terhadap sesama makhluknya tanpa terkecuali. Bahkan ketika dia masuk ke rumah Veni yang punya banyak sekali kucing, dia tak pernah lupa untuk menyapa hewan-hewan tersebut dengan kalimat,”Hey manis, apa kabar?” . Anak itu ramah sekali bukan? Dia memang anak yang lincah, mudah bergaul, dan banyak teman. Dialah anak yang akrab dipanggil Dee. Nama lengkapnya adalah Deeyra Chachandewi.
“Hey, pada ngapain nih?Pagi-pagi kok udah ngrumpi?”, tanya Dee pada sahabat-sahabatnya setelah dia meletakkan tas bermotif aneh nya di meja nomor 2 dari depan. Mereka adalah Izal, Astry, Liana, dan Rendy. Anak-anak itu telah bersahabat sejak duduk di kelas 2 SMP. Jadi tak heran jika mereka sangat dekat dan selalu bersama.
“Eh kamu tau nggak, aku dapat kabar kalau hari ini bakalan ada anak baru di kelas kita.”, jawab Liana kemudian.
“What?? Dari mana kamu dapat kabar itu dari mana? Siapa dia? Orangnya gimana? Pindahan dari mana? Cewek pa cowok? Trus cakep ga?”, sahut Dee dengan cepat.
“Duuuh, kamu tu kalau Tanya nggak usah nyrocos gitu, satu-satu knapa? Aku belum tau semua itu, yang jelas dia cowok, katanya sich cakep.”, jawab Liana.
Dee membuka mulut untuk menanyakan perihal anak itu lagi. Tapi suara yang akan di keluarkan terhalang oleh sapaan Ibu Nensi yang telah memasuku kelas.
“Pagi anak-anak!”
“Pagi Bu!”, sahut murid-murid serempak.
“Anak-anak, kita kedatangan tamu dari Bogor, dan mulai hari ini dia akan menjadi teman baru di kelas kalian.”, kata Bu Nensi. “Silahkan masuk Ren, perkenalkan diri kamu pada teman-teman barumu!”, perintahnya.
“Wah, benar juga ya, dia cakep banget. Duh aku udah rapi belum yah?”, kata Dee dalam hati.
“Hey temen-temen, namaku Renonaldo Deny Saputra. Panggil saja Reno. Aku pindahan dari Bogor, tapi aku sekarang menetap di kota ini. Alamatku sekaran di Jl. Melati no.14.”, jelas anak tersebut.
Setelah itu, Bu Nensi mempersilahkannya untuk duduk di sebelah Izal, tepat di belakang Dee dan Liana. Hanya di tempat itu yang ada kursi yang tidak berpenghuni.
Reno mengikuti pelajaran di hari pertamanya bersama Dee dan sahabat-sahabatnya. Dia senang bisa diterima di kelompok itu. Apalagi Dee, dia gembira sekali bisa secepat itu dekat dengan Reno.
Beberapa hari kemudian, mereka semua semakin akrab. Reno dengan mudah menyesuaikan diri dengan teman-teman barunya. Sehingga dia merasa nyaman dengan kondisi itu. Dee lebih nyaman dengan kahadiran Reno , dia makin suka dengannya. Reno baik, senang menolong,cerdas,tampan,gagah,dan tidak angkuh. Matanya sipit, tapi selalu terlihat cerah, membuat Dee tidak ingin memalingkan pandangannya setiap kali menatapnya. Reno selalu terlihat anggun, tapi tetap maskulin. Wajar saja Dee menyukainya. Dia begitu mengagumi Reno. Bayangan Reno selalu menemaninya kemanapun di berada. Dia tak mampu mengusirnya. Sayang,cinta, mungkin itu perasaan yang dia rasakan terhadap Reno yang kini semakin dekat dengannya. Sebenarnya tak ada yang perlu ditutup-tutupi.
Dee mengambil bukunya. Tak peduli itu buku apa. Dia ingin segera mengungkapkan perasaannya walau hanya tertuang dalam sebuah tulisan.Setelah selesai dia membaca tulisan itu.
“Kamu adalah seseorang yang sedang menghiasi hati ini. Kamu baru saja datang, dan dengan secepat itu bisa buatku lemah terhadapmu. Aku mengagumimu. Aku menyukaimu. Apa mungkin ya aku bisa menjadi kekasihmu? Akh, tapi………….AKU INGIN KAMU.”
Setelah puas, dia menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam tas. Tiba-tiba ponsel deeyra berbunyi.
“Hey Dee, jadi berangkat nggak? Aku udah mau jemput kamu nih. Kita ngerjain tugas di rumah Reno 1 jam yang akan dating. Kamu nggak lupa kan?”, suara dari sebrang telpon itu datang dari Liana.
“Iya-iya, nggak usah bawel sayang, aku udah siap nih.”, jawab Dee.
Satu jam kemudian mereka tiba di rumah Reno. Mereka akan mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Izal,Rendy,dan Astri. Sebenarnya Astri juga sudah lama memendam rasa terhadap Rendy. Namun Rendy sudah lebih dulu menaruh hati terhadap Dee. Dan Dee,…….. Reno. Wah ruwet memang, tapi begitulah adanya. Semua anggota sahabat itu telah mengerti akan perasaan temannya itu masing-masing terkecuali Dee. Dia tidak tau bahwa Rendy juga menyukainya. Jadi semua itu hanya terpendam. Tidak tau apakah suatu saat akan terungkap dan terpecahkan.
Setelah beberapa lama, tugas itu selesai juga. Izal, Rendy, Astry, & Liana segera pamit pulang karena mempunyai urusan sendiri-sendiri. Dee yang tadi nya dijemput Liana tinggal sebentar dengan Reno, karena Liana tak bisa menangantarnya pulang. Jadi Reno yang akan bersenang hati mengantarkan Dee. Ketika Dee sedang di belakang, Reno membereskan buku-buku Dee yang berserakan di atas meja. Tak sengaja, dia menjatuhkan salah satu buku itu. Bagian tengah terbuka, dan disitu terdapat beberapa baris tulisan Dee yang dibuat besar-besar. Sehingga Reno dapat membacanya dari jarak yang tidak dekat.” Kira-kira, yang dia maksudkan itu siapa ya?”, kata Reno dalam hati. Tak lama kemudian, Dee datang, karena penasaran, Reno cepat-cepat menarik tangan Dee untuk segera duduk.
“Aduh pelan-pelan dong Ren, kenapa sih?”, teriak Dee.
“Ssssttt,aku nggak tuli Dee, nggak perlu teriak-teriak gitu lah. Sorry Dee, aku tu cuman pengen tau sesuatu. Boleh nggak?”,kata Reno.
“Sesuatu apa? Yaudah tanya aja.”,sahut Dee kesal.
“Emmmmaksud tulisan kamu ini untuk siapa?”, Tanya Reno pelan
Jantung Dee langsung melonjak dengan cepat.
“Itu kan yang tadi aku tulis buat dia. Kok dia bisa nemuin sih. Duuh…….jawab apa aku?”, katanya dalam hati. Sesaat dia bingung untuk menjawab pertanyaan mengagetkan dari Reno tadi. Akhirnya dia memutuskan untuk berterus terang.
“Iya Ren, emmmm… .orang yang aku maksud itu kamu Ren,,,,,,”jawabnya.
Hening sejenak. Tidak lama kemudian Reno yang tadinya bingung kini tlah mengerti apa yang dimaksudkan wanita di hadapannya itu. Dengan ragu-ragu Reno membalas perkataan yang baru saja didengarnya. Dia tidak menyangka akan hal itu.
“Kkamu Dee?....Serius?”,
“ Serius Ren, dan………maaf karena aku tetap mengharapkanmu.”,balas Dee dengan gugup.
Mereka berdua saling menatap. Mengharap bisa membaca pikiran orang yang ditatapnya. Namun tidak lama. Suara kucing mengeong mengagetkan mereka. Dee berusaha mencairkan suasana tegang itu dengan mengalihkan perhatian ke kucing tersebut dan menggendongnya. Setelah mengelus-elus kucing itu, Dee segera pamit pulang. Dia diantarkan Reno sampai ke gerbang rumahnya.
Sesampainya di rumah, Dee masih memikirkan kejadian di rumah Reno tadi. Dia merasa puas telah mengungkapkannya, tapi dia juga malu.
“Hemb, biarin aja lah. Semua itu terlanjur terjadi.”,pikirnya.
Sejurus kemudian, tangannya menyambar sebuah benda berwarna hitam yang selalu dibawanya. Dia mencari tulisan Astry di dalam benda itu. Tidak lama kemudian suara Astry muncul dsri sebrang telfon.
“Ada apa sih Deey, pasti mau curhat. Tentang apa nih?”, Astry yang tau kebiasaan Dee itu langsung saja bicara tanpa mengucapkan salam. Astry yakin kalu Dee menelpon di larut malam, itu pasti karena Dee tidak bisa tidur dan ingin bercerita tentang apa saja yang dirasakannya. Lalu, tanpa basa-basi Deey langsung saja berbagi cerita tentang apa saja yang ingin dikatakannya.
Setelah dirasanya cukup, dia menutup telponnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia ingin segera memejamkan matanya. Dia tidak ingin memikirkan apa-apa sebelum terlelap di malam itu. Dia hanya ingin tidur.
Sabtu pagi, Dee dan sahabat-sahabatnya, yang sudah termasuk Reno menerima undangan untuk sebuah pesta ulang tahun temannya. Acaranya akan diadakan malam itu juga. Sekelompok teman itu ingin menghadirinya bersama-sama. Mereka membicarakan apa yang akan mereka bawa di pesta itu, juga pakaian yang cocok untuk dikenakannya.
“Eh gimana kalau kita nanti berpasangan aja. Kayaknya lebih oke tuh.”, sela Astry di sela-sela kerumunan teman-temannya.
“Berpasanan gimana maksud kamu?”,Tanya Izal.
“Jadi gini, kamu Izal, kamu nanti bersama Liana, Dee sama Reno, dan aku sama Rendy. Gimana? Setu nggak?”, usul Astry.
“Iyaiya, aku setuju. Bagus juga tuh idenya. Daripada kita bareng-bareng semua, kan udah biasa, trus kayak keroyokan.Mendingan berpasangan aja, jadinya dandanan kita masing-masing bisa terlihat jelas getooohh,hehehe…”, sahut Dee.
Dia akan sangat senang jika di pesta itu dia akan hadir bersama Reno. Tapi ekspresi Reno terlihat biasa. Tidak melukiskan wajah yang setuju atau tidak. Dia hanya mengikuti apa yang akan terjadi.
“Yang lain gimana nih? Mau kan?”, tanya Astry
“ Terserah kamu lah.”, jawab Rendy tanpa memperlihatkan semangatnya.
Sementara itu Izal dan Liana mengangguk setuju.
Perbincangan mereka pagi itu harus terputus karena Pak Tono segera datang mengisi kelas dengan pelajaran Matematika. Membuat murid-murid yang masih mengantuk menjadi terperanjat bangun.
Pelajaran berat itu juga membuat murid-murid bergegas ke kantin setelah Pak Tono keluar kelas karena bel istirahat berbunyi. Izal keluar kelas dengan rambut serawutan. Mungkin itu karena dia tadi benar-benar memperhatikan pelajarannya sehingga harus berpikir keras. Jadi dia akan mengacak-acak rambutnya sendiri jika belum juga paham akan materi yang diberikan oleh gurunya. Dia berjalan menuju ke kantin bersama Reno dan Astry.
“Wah rambutku pasti berantakan nih. Aku ke kamar mandi dulu ya, kalian duluan aja.”,kata Izal.
“Oke-oke. Duluan ya.”, sahut Astry.
Reno dan dan Astry meneruskan perjalanan singkatnya untuk mengisi perut yang lapar. Mereka berdua memesan makanan sesampainya di tempat tujuan dan segera memilih meja makan.
“Kamu tuh pintar juga ya, tadi bisa cepet ngerjain soal-soal yang nggak mudah itu.”, kata Reno memulai pembicaraan.
“Nggak kok Ren, aku bisa agak cepet karena udah sering latihan di rumah. Kalau kamu kan nggak latihan aja udah bisa.”, jelas Astry.
Mereka berdua sepertinya tidak sadar dengan apa yang mereka bicarakan. Mereka saling memuji kelebihan dari satu sama lain. Sambil terus memakan makanan pesanannya, mereka asyik berbincang-bincang sampai makanan tersebut habis. Lalu tangan Astry tidak sengaja menjatuhkan gelas yang ada di sampingnnya hingga pecah. Astry langsung membersihkan pecahan gelas itu.
“Aaaauuuuu,,,sakitt!”, jerit Astry.
Tangan Astry yang tipis itu terkena pecahan gelas yang tajam hingga berdarah. Reno pun segera membantu Astry. Dia meraih tangan Astry dan mengobati lukanya. Sementara itu, Dee melihatnya dari kejauhan. Dia sepertinya tidak senang dengan kedekatan Reno dan Astry. Tapi dia berusaha membuang persaan tidak senangnya itu.
Malam harinya, enam anak bersahabat itu hadir di pesta ulang tahunnya Nita. Mereka datang dengan berpasang-pasang sesuai rencana mereka tadi pagi. Tapi setelah mereka menjalani pesta itu beberapama menit, Reno dan Astry kembali bersama. Mereka meninggalkan Dee dan Rendy. Dee semakin tidak menyukai Astry. Dia merasa Astry selalu mengajak Reno untuk berdua. Di pesta itu Reno mengajak Astry untuk berdua.
“As, aku pengen banget bilang sama kamu akan hal ini. Sebenarnya aku ingin bilang dari awal, tapi aku takut kamu nggak suka.”,kata Reno.
“Memang kamu mau bilang apa Ren, katakan aja. Nggak perlu khawatir kalau nantinya aku nggak suka.”,jawab Astry kemudian.
“As, aku mengagumimu, aku ingin hubungan kita bukan lagi sahabat, aku ingin kekasih, dan……”, ucapan Reno terputus mengetahui keberadaan Dee yang melihat pembicaraan itu dan langsung pergi meninggalkan mereka.
Reno dan Astry segera bangkit dari tempat duduk mereka. Astry sedikit berlari untuk segera menjumpai Dee.
“Dee, kamu kenapa? Kok tadi langsung pergi? Kamu mau mencari Reno?”, Tanya Astry setelah berhasil menghampiri Dee.
“Apa? Aku nggak papa kok. Biasa aja. Kamu nggak usah sok peduli sama aku. Aku juga lagi nggak nyari Reno.”, jawab Dee dengan sewot.
Setelah menanggapi pertanyaan Astry, dia segera berlalu begitu saja tanpa memperhatikan ekspresi Astry. Astry heran dengan sikap Dee yang tidak seperti biasa. Dia belum pernah menjumpai Dee yang berkata agak sinis dan cuek seperti tadi. Dee mendengar pembicaraan Reno dan Astry tadi. Hal itu cukup membuatnya menjadi seperti itu. Dia tentu semakin cemburu dengan Astry. Dia menginginkan Reno, dan dengan pernyataan Reno yang mengagetkan tadi, membuatnya sakit. Namun Astry tidak mementingkan pernyataan Reno tersebut. Dia terus terpikirkan oleh sikap Dee yang berubah begitu saja. Dia tidak mengetahui sebabnya.
Pagi harinya, Dee pun tidak ikut berkumpul di rumah Astry. Dia beralasan sedang pergi bersama orang tuanya. Padahal dia hanya tidak ingin bertemu dengan Astry. Dee semakin membenci anak itu.
Di hari berikutnya adalah hari Senin. Di sekolah, dia tidak lagi berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Dia juga enggan untuk berbicara dengan Astry maupun Reno.
Ketika itu, Dee sedang ingin ke toilet. Sebelum memasuki toilet itu dia melihat kulit pisang di dekat pintu. Mengetahui Astry juga akan menuju ke sana, dia memasang kulit pisang itu tepat di depan pintu. Kemudian dia pun masuk. Kejadian tak menyenangkan yang direncanakan Dee itu pun berlangsung. Astry jatuh terpeleset karena tak memperhatikan kulit pisang itu. Toilet yang baru saja dipel itu membasahi baju Astry.
“Duuuh, sakit!”,teriak Astry kesakitan.
Dia terjatuh, lalu ditolong Izal dan Liana yang kebetulan melewati tempat itu. Tidak lama kemudian Dee keluar dari toilet tanpa memperhatikan Astry sedikitpun.Hal itu membuat Liana dan Izal bingung. Kenapa Dee tidak juga peduli terhadap Astry, walaupun dia jatuh sakit karena terpeleset? Namun Rendy tidak heran seperti mereka. Karena di pesta itu, dia terus mengikuti Dee. Sehingga mengetahui penyebab perubahan sikap Dee. Dia mau tak mau harus menyampaikan apa yang diketahuinya itu kepada Izal dan Liana. Akhirnya Izal, Liana dan Rendy merencanakan sesuatu.
Sepulang sekolah, Rendy mengajak Dee untuk tinggal sebentar di kelas.
“Dee, aku tau apa yang membuat sikap kamu aneh begini. Dee, tolong jangan seperti itu. Aku tau kamu menyukai Reno. Dan kamu menjadi tidak menyukai Astry karena dialah yang disukai Reno. Dee, asal kamu tau, aku juga menyukaimu. Aku juga mengharapkan kamu. Tapi kamu mengharapkan orang lain. Kamu tau kan Dee maksud aku?”, jelas Rendy tak singkat.
Dee pun kaget. Dia tidak pernah menyangka bahwa Rendy juga mengharapkannya. Sementara itu, Astry datang. Dia tidak mengira kalau Dee dan Rendy belum juga pulang. Dia hanya ingin mengambil handphone nya yang tertinggal di mejanya karena Izal tadi meminjamnya.
“Hay, kalian kenapa belum pulang?”, sapa Astry.
“Iya As, lagi tinggal sebentar.”, jawab Rendy
.           Dee hanya diam mengetahui kedatangan Astry. Dia tidak sedikitpun menganggapnya.
            “ Dee, kenapa kamu jadi seperti ini sama aku? Aku salah apa ke kamu Dee? Jawab Dee?”, kata Astry sambil mendekati Deeyra.
            “Nggak, aku nggak papa.”, jawab Dee singkat.
            “Okey Dee, kalau kamu terus seperti itu. Tapi Dee, kamu harus tau kalau aku nggak jadian sama Reno. Aku tidak bermaksud menghalangi kamu untuk tetap berharap sama dia.”, jelas Astry yang mulai kesal terhadap Deeyra.
            Dee yang baru saja akan mengeluarkan suaranya tak jadi berucap melihat Izal dan Liana datang. Tiba-tiba saja suasana jadi tegang. Rendy dan Astry tutup mulut karena mereka tau Liana akan berkata panjang lebar.
            “ Dee, kamu jangan egois. Aku hanya ingin kamu tau kalau Astry tidak seburuk yang kamu pikirkan. Rendy adalah orang yang dia sukai. Bukan Reno. Jadi plis Dee, jangan buat kita semua menjadi rumit. Kalian tidak salah merasakan cinta, tapi jangan buat cinta itu memisahkan kita semua Dee. Aku tau dia itu cinta. Kamu harus tau bahwa kamu juga diharapkan Rendy.”, ucap Liana dengan nada yang agak tinggi sehingga suasananya terlihat makin tegang.
            Deeyra tentu saja tidak mengira akan hal itu. Kini dia mulai merasa bersalah terhadap Astry. Dee ingin membuka mulut lagi, tapi terdahului Izal.
            “Dee, plis kembalikan keadaan seperti semula. Hanya kamu yang kurang bisa menerima kenyataan. Jangan biarkan cinta memisahkan persahabatan kita. Jangan biarkan dia hancurkan kita. Dee,”
            Dee yang semakin panas mendengar itu semua segera memeluk Astry dan meminta maaf. Dia mengaku bahwa dirinya menjadi egois. Karena persaan yang tak biasanya terhadap Reno membuatnya seperti itu. Kini semua telah kembali. Mereka semua bisa merasakan apa artinya persahabatan.
           

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar